View Alldemokrasi

Wabah Corona Virus di Indonesia

Wabah Corona Virus di Indonesia

RakyatDemokrasi.com -- Saat Li Wenliang, Dokter yang bekerja di Rumah Sakit Wuhan menemukan adanya virus jenis baru pada Desember 2019. Saat itu Li mengungkapkan, ada tujuh kasus pasien yang memiliki gejala seperti Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) yang mewabah pada 2002-2003.

Sindrom itu (SARS) diduga berasal dari Pasar Seafood Huanan di Wuhan. Kemudian, ia mengirim pesan berisi peringatan akan patogen itu kepada para koleganya. Namun, tak sadar bahwa tindakannya itu secara tidak langsung telah menemukan varian baru dari virus corona yang kemudian diberi kode 2019-nCoV.

Saat pertama kali coronavirus varian baru ditemukan di Wuhan dan akhirnya mengepung wilayah Asia tenggara, virus corona atau COVID-19 akhirnya menyerang Indonesia. Dua orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona pada 2 Maret 2020. Pengumuman kasus virus corona pertama itu disampaikan langsung Presiden Joko "Jokowi" Widodo bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, di Istana Merdeka, Jakarta.

Kasus virus corona pertama di Indonesia ini bermula dari adanya Warga Negara Asing (WNA) asal Jepang yang positif virus corona mengunjungi Indonesia. Terawan menyebut, WNA Jepang yang tinggal di Malaysia itu ternyata sudah terinfeksi COVID-19 saat datang ke Indonesia.

WNA Jepang kemudian mengonsumsi obat penurun demam, sehingga ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta tidak terdeteksi menggunakan alat thermo scanner. Berikut deretan kasus virus corona di Indonesia mulai Kasus 1 dan Kasus 2 hingga kini. 31 Maret: Ada 1.528 kasus positif virus corona, 136 meninggal

Wabah virus corona semakin menakutkan. Juru Bicara Penanganan Virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, menyebutkan pasien positif virus corona sampai Selasa (31/3) berjumlah 1.528 kasus. "Total kasus kematian ada 136 orang," kata Yuri melalui telekonferensi yang disiarkan TVRI di BNPB, Selasa (31/3). Kabar baiknya, jumlah pasien yang sembuh juga meningkat menjadi 81 orang dari sebelumnya 75.

Untuk mencegah penyebaran virus corona, Presiden Jokowi hari ini menetapkan status pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan status kedaruratan kesehatan masyarakat. Selain itu pemerintah juga akan mengucurkan dana sebesar Rp405,1 triliun untuk menangani virus corona. 30 Maret: Tingkat kematian akibat COVID-19 Indonesia tertinggi ke-2 di dunia

Juru Bicara Penanganan Virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, mengumumkan bahwa kasus virus corona di Indonesia semakin bertambah. Pada Senin (30/3) ini, jumlahnya bertambah menjadi 1.414 kasus.

Sementara itu pasien meninggal akibat virus corona di Indonesia bertambah sebanyak 8 orang. Dengan demikian, total kasus meninggal menjadi 122 orang.

Dengan angka tersebut Indonesia menduduki posisi ke-2 negara dengan case fatality rate (CFR) atau tingkat kematian akibat virus corona tertinggi di dunia. Data tersebut sesuai dengan grafis yang dikeluarkan secara resmi oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona COVID-19, pada pukul 16.45 WIB.

Melalui data tersebut, Italia adalah negara nomor satu dengan CFR virus corona tertinggi di dunia. CFR virus corona Italia mencapai 11,30 persen. Diketahui, sudah ada 10.779 kasus kematian dari 97.689 kasus positif virus corona di Italia.

Berikut lima negara dengan CFR virus corona tertinggi di dunia:
  1. Italia 11,3 persen
  2. Indonesia 8,63 persen
  3. Spanyol 8,62 persen
  4. Iran 6,89 persen
  5. Prancis 6,49 persen

Tingginya Kematian Akibat Coronavirus Liga Italia Terancam Berhenti



rakyatdemokrasi.com -- Ketua Asosiasi Pemain Italia atau The Italian Footballers’ Association (AIC), Damiano Tommasi menyatakan jika Liga Italia musim 2019/20 bisa berhenti begitu saja.

Ia pun meminta semua pihak menyelesaikan permasalahan antara klub dan pemain jika liga benar-benar berhenti. Terutama dari segi finansial terkait kontrak dan gaji pemain.

"Setelah berbicara dengan Menteri Spadafora, ada kemungkinan musim ini bisa berhenti begitu saja," ungkapnya seperti dikutip dari Football Italia.

"Oleh karenanya, sangat penting untuk menyelesaikan masalah dari sisi olahraga dan kontrak secara resmi. Pemotongan gaji sangat memungkinkan dan solusi yang normal. Juve telah melakukannya, tapi apa yang mereka lakukan tidak mengejutkan kami," lanjutnya.

"Apabila tidak ada permasalahan antara pemain dan klub, maka kami tidak perlu ikut campur. Jika mereka bisa menemukan kesepakatan, itu sangat bagus," pungkasnya.

Liga Italia sendiri terpaksa dihentikan akibat wabah Virus Corona sejak 9 Maret lalu. Liga pun terancam berhenti mengingat banyaknya orang yang meninggal di Italia akibat wabah ini.


Awal April 2020, Korban Meninggal akibat Coronavirus di Italy Lebih dari 12 Ribu Orang

Awal April 2020, Korban Meninggal akibat Coronavirus di Italy Lebih dari 12 Ribu Orang

rakyatdemokrasi.com - Saat ini, jumlah korban meninggal akibat wabah virus corona alias COVID-19 di Italia makin memprihatinkan. Seperti disebut di www.worldometers.info, jumlah kasus coronavirus di italy mencapai jumlah 105.792 dengan angka kematian lebih dari 12 ribu sementara yang sembuh, berhasil direcovery mencapai angka 15.729.

Namun dari angka-angka tersebut terjadi penurunan tingkat harian kedua secara berturut-turut. Jumlah korban meninggal, yang sejauh ini menjadi yang tertinggi di dunia, menyumbang lebih dari sepertiga seluruh kematian akibat virus corona secara global.

Italy Coronavirus 105,792 Cases and 12,428 Deaths - Worldometer

Sebelumnya, pada Jumat Italia mencatat jumlah kematian tertinggi harian yakni 919 kematian. Jumlah tersebut turun pada Sabtu dengan 889 kematian. Sementara, jumlah kasus COVID-19 di Italia juga mengalami kenaikan pada Minggu menjadi 97.689 dari jumlah sebelumnya 92.472, kenaikan kasus harian terendah sejak Rabu.

Saat ini, sebanyak 15.729 pasien dinyatakan sembuh (update 1 April 2020, 07.50GMT), dibanding 12.384 hari sebelumnya. Sementara itu, 3.906 orang dalam perawatan intensif, naik dari 3.856.

Wilayah Lombardy menjadi kawasan Italia terparah yang dilanda virus corona, dengan kenaikan laporan kematian sekitar 416 pada Minggu. Secara global virus corona telah menginfeksi lebih dari 662.700 orang dan menelan 30.751 korban jiwa, menurut perhitungan Reuters.(Reuters)

Seputar ODP, PDP, Suspect dan OTG Terkait Istilah Corona Virus

Seputar ODP, PDP, Suspect dan OTG Terkait Istilah Corona Virus

RakyatDemokrasi.com -- Di tengah pandemi virus corona atau #COVID-19, muncul beberapa istilah terkait virus corona yang sering didengar dan lalu lalang di sekitar kita. Beberapa di antaranya seperti Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), suspect, dan Orang Tanpa Gejala (OTG).

Meski sering didengar sejak wabah virus corona melanda, arti istilah-istilah tersebut tentu belum banyak diketahui publik.

Arti Istilah ODP, PDP, Suspect, dan OTG


Karena ketidaktahuan, wajar jika selama ini banyak orang kebingungan dan salah sangka. Untuk itu, kami mencoba merangkum arti istilah ODP, PDP, suspect, dan OTG yang kamu #HarusTau:

1. Orang Dalam Pemantauan (ODP)


arti istilah orang dalam pemantauan (ODP) corona virus

Sekretaris Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Achmad Yurianto, menjelaskan semua orang yang baru bepergian dari negara terjangkit COVID-19, maka orang tersebut harus memeriksakan kesehatan begitu kembali ke Tanah Air.

Hal itu dikarenakan orang-orang tersebut masuk dalam kriteria orang dalam pemantauan atau pengawasan (ODP).

Maka dapat disimpulkan, ODP merupakan orang yang sempat bepergian ke negara atau daerah lain yang merupakan pusat penyebaran virus corona. Selain itu, seseorang yang pernah berkontak langsung dengan orang atau pasien positif corona juga dapat dikatakan sebagai ODP.

Menurut Yurianto, orang-orang yang berstatus ODP biasanya belum menunjukkan gejala sakit.

Orang-orang dalam pengawasan atau pemantauan tersebut kemudian disimpan datanya dalam sebuah database yang didapatkan Kementerian Kesehatan dari data Imigrasi. Nantinya, data-data itu bisa dilihat kembali jika orang bersangkutan tiba-tiba sakit atau terpapar COVID-19.

"Tidak semua ODP diterjemahkan sakit. Ini kita pantau. Tracking kita lakukan ke mana saja dia selama di Indonesia. Ini penting kalau suatu saat dia jadi sakit dan sebagainya kita bisa melacak dengan cepat," tutur Achmad Yurianto.

2. Pasien Dalam Pengawasan (PDP)


arti istilah pasien dalam pengawasan (PDP) corona virus

Kemudian, apabila ODP mengalami keluhan gejala influenza sedang, orang tersebut akan langsung dirawat di ruang isolasi.

"Kalau sudah dirawat, maka statusnya berubah menjadi Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Jadi namanya pasien, orang tersebut harus dirawat," tambah Yurianto.

Dalam hal ini, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) adalah orang yang masuk dalam kategori sudah dirawat oleh tenaga kesehatan (menjadi pasien).

Seseorang dikatakan PDP juga apabila terlihat menunjukkan gejala sakit, seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas. Selanjutnya, PDP akan dipantau kembali dengan teliti apakah orang tersebut memiliki riwayat kontak dengan orang positif COVID-19.

3. Suspect


arti istilah pasien suspect corona virus COVID-19

Manakala PDP ternyata memiliki riwayat kontak yang diyakini dengan orang positif COVID-19, maka orang itu dimasukkan dalam kriteria 'suspect'.

Istilah suspect merujuk pada orang yang sudah menunjukkan gejala corona. Mereka diduga kuat sudah melakukan kontak dekat dengan pasien positif corona.

Pasien dalam kategori suspect akan diperiksa menggunakan dua metode, yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Genome Sequencing.

Dua metode pemeriksaan itu akan dilakukan untuk melihat status infeksi corona pada tubuh orang dalam kategori 'suspect', apakah positif atau negatif.

"Begitu dia masuk dalam kriteria suspect, maka kita harus konfirmasi virus, sehingga kalau kemudian diperiksa dan hasilnya positif maka kita sebut sebagai confirmed positive Covid-19. Normalnya seperti itu," imbuh Yurianto.

Untuk diketahui, semua orang dengan status ODP, PDP, dan suspect akan diberitahu oleh petugas kesehatan terkait.

Pada umumnya, ketiga kelompok tersebut akan mendapat instruksi untuk menjalani karantina selama 14 hari. Bagi orang yang termasuk kategori ODP, harus melakukan isolasi diri dengan berdiam di rumah selama 14 hari atau disebut karantina mandiri. Sementara, isolasi atau karantina bagi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) seharusnya dilakukan di rumah sakit.

3. Orang Tanpa Gejala (OTG)


arti istilah orang tanpa gejala (OTG) COVID 19

Selain ODP, PDP, dan suspect, ada juga istilah yang berkaitan dengan situasi virus corona ini yaitu Orang Tanpa Gejala (OTG).

OTG merupakan individu yang tidak menunjukkan gejala virus corona. Kendati demikian, OTG memiliki risiko tertular dari orang positif COVID-19.

"Inilah yang paling ditakuti para ahli kesehatan jika virus tidak menunjukkan gejala namun masih bisa menular, karena mengontrol virus jenis ini jauh lebih sulit," ungkap para ahli kesehatan, dilansir dari Xinhua.

Adapun tanda terinfeksi corona tanpa gejala salah satunya dapat dilihat dari nenghilangnya kemampuan mencium bau. Hal itu diungkapkan oleh Profesor Nirmal Kumar, konsultan ahli THT. Ia mengatakan bahwa hidung menjadi pintu masuk utama saat orang bernapas.

Jika demikian, ini menunjukkan bahwa virus bisa saja sedang berdiam di sekitar area hidung.

"Pada pasien muda tidak ada gejala signifikan misalnya batuk dan demam, tetapi mereka mungkin bisa kehilangan kemampuan mengecap rasa dan mencium bau, yang menunjukkan virus berdiam di hidung," ujar Nirmal, melansir Sky News.

Dosen klinis di King's College London, Dr. Nathalie MacDermott, mengatakan bahwa infeksi biasa terjadi lewat hidung atau tenggorokan.

Itu bisa menyebabkan hilangnya kemampuan indera penciuman dan juga indera pengecap. Gejala baru ini diketahui belum tersebar di komunitas medis.

Di Korea Selatan, China dan Italia, banyak orang yang positif virus corona dilaporkan mengalami kondisi anosmia atau kehilangan kemampuan penciuman. Orang yang mengalami kondisi ini disarankan untuk mengisolasi diri selama 7 hari untuk mencegah penyebaran virus.

Anggota Jamaah Masjid Kebun Jeruk Diisolasi

Anggota Jamaah Masjid Kebun Jeruk Diisolasifoto : antara

Camat Tamansari, Jakarta Barat, Risan Mustar meminta bantuan pangan berbentuk makanan siap saji untuk sekitar 300 anggota jamaah Masjid Kebun Jeruk yang diisolasi akibat tiga orang dideteksi terduga terpapar COVID-19.

Permohonan tersebut tertuang dalam surat yang dikeluarkan dari Kecamatan Tamansari kepada Suku Dinas Sosial Jakarta Barat. Isolasi berlaku selama 14 hari mulai Kamis (26/3).

"Bantuannya makanan siap saji, karena daripada dia mondar-mandir keluar makanya kami minta bantuan," ujar Risan di Jakarta, Jumat (27/3) malam.

Dari sekitar 300 anggota jamaah, 73 orang diantaranya merupakan warga negara asing.

Saat Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat melakukan "rapid test" atau tes cepat COVID-19 terhadap jamaah masjid tersebut, hasilnya menunjukkan tiga orang terduga terpapar virus corona jenis baru (COVID-19).

"Karena dari hasil tes kemarin ada tiga jamaah yang terduga (suspect), maka sekarang jamaah yang ada di sana kita isolasi selama 14 hari," kata dia.

Tiga WNI yang terduga terpapar virus corona diisolasi dan dibawa ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Tiga orang itu terdiri atas seorang warga Sumatera Utara dan dua orang asal Aceh.

View AllHukum

View Allwakil rakyat