Partisipasi Warga Keturunan Tionghoa di Pemilu Bagian Perjuangan Membangun Bangsa

Rakyat Demokrasi - Seluruh warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dihimbau aktif menggunakan hak pilihnya saat Pemilu 2019 nanti. Keikutsertaan semua masyarakat termasuk WNI keturunan Tionghoa merupakan bagian dari perjuangan membangun bangsa, demikian dikatakan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo saat menghadiri perayaan imlek Nasional 2019 di IEXPO, Kamis (7/2)

Partisipasi Warga Keturunan Tionghoa di Pemilu Bagian Perjuangan Membangun Bangsa
image : dok/dpr RI

"Perayaan Imlek menjadi bukti nyata betapa bangsa Indonesia mengakui budaya etnis Tionghoa. Sebagai bagian dari warga negara yang memiliki hak pilih, WNI keturunan Tionghoa harus manfaatkan hak tersebut sebaik mungkin. Jangan golput karena setiap suara tak ternilai harganya. Apakah bangsa Indonesia akan tetap bisa merajut kebhinnekaan dan memperkokoh persatuan, semua tergantung bagaimana cara pemimpin kita membawa ke arah mana masa depan bangsa dan negara," jelasnya.

Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga tidak bisa dipisahkan dari keberadaan etnis Tionghoa. Seperti halnya etnis Jawa, Batak, Sunda, Melayu dan lainnya sejarah telah mencatat bahwa etnis Tionghoa juga sama seperti etnis lain di Nusantara, ungkap Politisi Partai Golkar ini.

"Pemuda Tionghoa juga turut aktif dalam deklarasi Sumpah Pemuda yang merupakan salah satu penguat pondasi pencapaian kemerdekaan Indonesia. Di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia juga terdapat empat orang Tionghoa yaitu Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, Mr. Tan Eng Hua dan Liem Koen Hian. Tak hanya itu, sejarah juga mencatat Jap Tjwan Bing sebagai seorang etnis Tionghoa yang turut meresmikan UUD 1945," tutur Bambang.

Karenanya, dia menilai, perayaan Imlek yang disemarakkan di berbagai wilayah juga merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Merayakan Imlek merupakan bagian dari merayakan kebhinnekaan bangsa.

"Perbedaan etnis, suku, agama, maupun kepercayaan memang tidak bisa dinafikan dalam kehidupan. Namun kita sudah buktikan kepada dunia, bahwa di Indonesia, perbedaan tersebut bukan menjadi bencana melainkan menjadi anugerah," jelas Bambang.

Dia menambahkan, perayaan Imlek nasional maupun yang dilakukan di berbagai daerah akan menjadi bukti bahwa realitas multikulturalisme yang sempat dilupakan sekian waktu lamanya, telah kembali bersemi dengan indah. Menjadi penyubur tanah Indonesia dan penghias kecantikan Ibu Pertiwi.

"Gegap gempitanya Perayaan Imlek dengan pertunjukan barongsai, suara tabuhan bedug saat idul fitri, denting lonceng saat natal, maupun heningnya suasana saat Nyepi, semuanya merupakan keragaman bangsa Indonesia. Tidak ada bangsa di dunia ini bangsa Indonesia yang bisa seberadab dalam menyikapi kemajemukan. Kita senantiasa bersatu dalam naungan kedamaian NKRI," ucap Bambang.

Atas dasar itu, Bambang menilai bangsa Indonesia patut berterima kasih kepada KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI. Beliau, Gus Dur telah menyingkirkan awan gelap yang bukan hanya telah mengisolasi etnis Tionghoa melainkan turut membelenggu bangsa Indonesia sekian puluh tahun lamanya.

"Dengan adanya payung hukum terhadap perayaan Imlek ini menandakan pula terbukanya kesempatan kepada seluruh etnis Tionghoa untuk lebih bisa mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia baik melalui jalur sosial, ekonomi, maupun politik. Mari bersatu pada membangun Indonesia tanah tumpah darah kita bersama," demikian Bambang. [wah/RD/**]


EmoticonEmoticon